Informasi

Segala Pengurusan Kepegawaian Tidak Dipungut Biaya Apapun...; Melayani Dengan Peduli Ikhlas dan Bertanggung Jawab Melayani Dengan Peduli Ikhlas dan Bertanggung Jawab Visi BKN : Menjadi Pembina dan Penyelenggara Manajemen Kepegawaian yang Profesional dan Bermartabat Segala Pengurusan Kepegawaian Tidak Dipungut Biaya Apapun...; Segala Pengurusan Kepegawaian Tidak Dipungut Biaya Apapun...; Melayani Dengan Peduli Ikhlas dan Bertanggung Jawab Melayani dengan Peduli, Iklas dan Bertanggungjawab ... ;
Rabu, 21 Februari 2018 - 09:31:48 WIB

Bagaimana Mewujudkan Organisasi yang Sehat ?


Diposting oleh : Teamweb
Kategori: Kepegawaian - Dibaca: 491 kali

Bagaimana Mewujudkan Organisasi yang Sehat ?
Setiap organisasi mendambakan pencapaian kinerja yang cemerlang dan tingkat kepuasan pelayanan yang tinggi. Tentu tidak ada yang salah dengan hal ini dan wajar bila sebuah organisasi mengerahkan segala daya dan upaya untuk mencapainya. Terlebih bagi sebuah organisasiyang sejak awal didirikan memang berorientasi pada pencapaian laba maupun pelayanan maksimal. Namun, hal tersebut tidak akan dapat diperoleh tanpa adanya kondisi yang prima. Layaknya manusia, organisasi juga dituntut memiliki kondisi sehat untuk dapat beraktivitas secara maksimal. Bagaimana kesehatan organisasi ini dapat diwujudkan?

Para ilmuwan di National Institute for Occupational Safety and Health (NIOSH) mendefinisikan organisasi yang sehat sebagai organisasi yang budaya, iklim, dan praktek-praktek kerjanya mampu menciptakan lingkungan yang mendukung kesehatan dan keselamatan karyawan dan juga efektivitas organisasi. Dengan organisasi yang sehat, karyawan merasa dihargai. Terwujudnya organisasi yang sehat akan meningkatkan kepuasan kerja, menurunnya tingkat absensi dan keluar masuk karyawan, meningkatkan kinerja pekerjaan, dan juga meningkatkan kesehatan fisik, mental, spiritual, dan kesejahteraan karyawan. Pada gilirannya, hal ini akan berdampak positif bagi kinerja keseluruhan dari organisasidimasa yang akan datang.
 
Diskursus organisasi yang sehat esensinya adalah pembahasan mengenai bagaimana pengelolaan sumber daya manusia yang menjalankan roda organisasi tersebut. Organisasi yang sehat akan selalu ditandai dengan pola tindakan dan perilaku yang sehat pula dari para pegawainya yang secara akumulatif akan berefek pada kontribusi keseluruhan organisasi dalam bentuk peningkatan kinerja dan kualitas inovasi yang terus dan berkelanjutan. Para pegawai akan selalu bersemangat dan tertantang untuk menciptakan kualitas hasil kerja yang bermutu, unggul, kompetitif, berorientasi pada capaian dan kepuasan dari stakeholder. Hal inilah yang mencirikan atas apa yang oleh para pakar disebut sebagai positive organizational behaviour (POB).
 
Pengertian Positive Organizational Behavior (POB)
Definisi dari POB menurut Luthans (2002) adalah studi dan aplikasi dari kapasitas psikologi dan kekuatan dari sumber daya manusia yang berorientasi secara positif, yang dapat diukur, dikembangkan, dan secara efektif dapat dikelola untuk meningkatkan kinerja di organisasi pada saat ini.

Para pakar mendefinisikan POB kedalam empat (4) karakteristik utama yaitu: harapan (Hope State), optimisme (Optimism State), ketahanan/ketabahan (Resiliency State) dan Kemampuan Percaya Diri (self-efficacy/confidence).  Studi menunjukkan bahwa melalui pengembangan empat pilar tersebut ternyata mampu menyebabkan dampak kinerja dan keunggulan kompetitif dalam organisasi. Hal ini jelas berkaitan erat dengan konteksindividu pegawai yang menjadi amunisi utama organisasi dalam menjalankan roda aktivitasnya.

Seolah menjawab pertanyaan yang menjadi judul diatas, layaknya manusia organisasi sesungguhnya juga dapat memiliki tindakan/perilaku yang mencirikan identitas masing-masing. Perilaku ini merupakan akumulasi dari motif, hasrat, cita-cita, dan kegiatan yang dilakukan oleh setiap orang yang berada dan memiliki organisasi tersebut. Jadi, perilaku organisasi merupakan akumulasi dari setiap diri pegawai beserta sistem yang berjalan didalamnya. Terdapat empat pilar utama sebagai pembentuk dari perilaku organisasi positif yakni harapan, ketahanan, optimisme, dan kepercayaan diri. Kita akan sedikit mengulasnya satu per satu.

a.    Harapan (Hope State)
Harapan merupakan kapabilitas untuk menciptakan dan pada akhirnya merealisasikan terbentuknya “jalan” menuju target/cita-cita yang diinginkan manusia dan memotivasi diri untuk menemukan inisiatif metode untuk menggunakan “jalan” tersebut. Harapan dalam organisasi merupakan kumpulan asa yang dimiliki oleh tiap-tiap pegawai sehingga memberikan dorongan dan peta jalan untuk terus produktif memberikan kontribusi yang nyata bagi organisasi.

Secara umum beberapa penelitian menyimpulkan bahwa jika seseorang memiliki harapan (hopeful) maka orang tersebut akan memiliki motivasi dan percaya diri yang lebih baik untuk mencapai target kinerja dari pekerjaannya. Selain itu, orang tersebut akan memiliki “saluran” alternatif untuk mencapai targetnya ketika ia memperoleh hambatan.

Sebagai contoh mungkin dapat kita mengapa begitu banyak orang yang berharap dapat bekerja pada perusahaan google. Setiap tahun, Google senantiasa sukses menempati salah satu posisi teratas dalam survey tentang tempat kerja terbaik di seluruh dunia. Dengan adanya gaji yang tinggi, makanan gratis sepanjang hari, opsi kepemilikan saham yang bernilai tinggi, proyek-proyek teknologi keren dan juga cuti melahirkan dengan gaji penuh sampai 5 bulan, maka tak heran jika mayoritas pegawai di Google menganggap bahwa perusahaan tersebut merupakan tempat terbaik untuk bekerja. Meskipun tentu tidak semua orang sepakat dengan konsep ini.

Dalam manajemen sumber daya manusia, harapan memainkan peranan penting dalam proses seleksi terutama untuk jenis pekerjaan tertentu. Dan karena dipelajari dan dapat berubah, harapan dapat ditingkatkan dengan pelatihan dan pengembangan untuk meningkatkan kinerja dan retensi karyawan yang berharga bagi perusahaan.

b.    Ketahanan (Resiliency State)

Dalam POB, resiliency didefinisikan sebagai kapasitas seseorang untuk memecahkan berbagai kesulitan, ketidakpastian, konflik, kegagalan, atau bahkan kapasitas untuk melakukan perubahan diri untuk mencapai kemajuan, maupun untuk meningkatkan tanggung jawab.

Resiliensi merupakan kemampuan pegawai dalam menghadapi konstelasi dan dinamika pekerjaan yang fluktuatif, mampu mengubah ancaman risiko dan ketidakpastian menjadi kesempatan untuk tumbuh, berkembang, dan meningkatkan kemampuan beradaptasi demi tercapaian tujuan dan kinerja yang lebih baik.

Beberapa penelitian menyimpulkan bahwa orang yang telah memiliki resilient yang tinggi, cenderung lebih efektif dalam mengarungi berbagai permasalahan di kantor, termasuk kemampuannya menyesuaikan dan mengembangkan dirinya dalam berbagai kondisi psikologis yang tidak menyenangkannya.

c.    Optimisme (Optimism State)
Optimisme merupakan kekuatan berpikir positif. Dampak positif ini berpengaruh pada kesehatan fisik dan psikologis, karakteristik ketekunan, prestasi, dan motivasi yang menyebabkan keberhasilan di bidang akademik, olahraga, politik, dan pekerjaan lainnya.

Pegawai yang optimis akan tetap berkomitmen untuk mencapai kinerja yang lebih tinggi, karena ia cenderung untuk mampu memanfaatkan berbagai cara untuk beradaptasi. Bagi mereka, kemunduran tidak dianggap sebagai kegagalan, tetapi sebagai tantangan dan peluang untuk menjadi lebih sukses.

d.    Kemampuan Percaya Diri (Self-efficacy)
Kemampuan diri atau kepercayaan diri mengacu pada keyakinan individu mengenai kemampuannya untuk memobilisasi motivasi, sumber daya kognitif, dan tindakan yang diperlukan agar berhasil melaksanakan tugas dalam konteks tertentu. Sumber kepercayaan diri dapat diperoleh melalui pengalaman penguasaan atau pencapaian kinerja, pengalaman pribadi dan pemodelan, persuasi sosial, peningkatan fisik dan psikologis. Percaya diri dalam hal ini bersifat karakter, oleh karenanya kompetensi ini dapat dilatih dan dikembangkan. Percaya diri yang rendah, dapat ditingkatkan melalui pelatihan dan pengembangan, dan percaya diri yang makin meningkat akan menghasilkan kinerja yang meningkat pula.

Penutup
Dari sekian defiisi dan temuan yang telah ditampilkan oleh para pakar, nampak jelas terlihat adanya peran yang sangat penting antara hope, resilience, self efficacy, dan optimism terhadap kinerja dari para pegawai. Adanya peningkatan kinerja ini tentunya akan memberikan kontribusi langsung terhadap kualitas hidup dari organisasi itu sendiri sebagai representasi dari organisasi yang sehat. Dengan kata lain, organisasi yang sehat hanya akan terwujud pada diri para pegawai yang sehat pula. Sehat membangun harapan, sehat dalam menghadapi permasalahan, sehat dengan kepercayaan diri serta selalu memiliki optimisme dalam bekerja.

Untuk itu, peran pemimpin sebagai leader yang menggerakkan dan mengelola sumber daya manusia sangat dibutuhkan dalam memberikan ruang tumbuh dan berkembangnya benih-benih keempat karakter (kompetensi) tersebut. Bagaimana pemimpin dapat terus memompa kompetensi hope, resilience, self efficacy, dan optimismyang dimiliki pegawai, memberikan fasilitas dukungan lingkungan yang kondusif agar kompetensi tersebut dapat terus dipertahankan dan dikembangkan dari waktu ke waktu sehingga performa organisasi akan selalu terjaga.

*Ditulis oleh Ridlowi, pegawai Kanreg I BKN Yogyakarta


Berita Terkait